Gerabah Asal Lombok Tengah Mendunia, Pengrajin Menjerit

Lombok Tengah, Kabarntb.id – Industri rumahan seperti pengrajin gerabah yang ada di Kabupaten Lombok Tengah kini berangsung angsur membaik pasca teragedi bom Bali tahun 2002 dan 2005 silam.

Amran salah seorang pengusaha gerabah sekaligus pemilik Artshop Yulia Pottery asal Dusun Kenandon Desa Penujak Kecamatan Praya Barat mengatakaan awal mula berdirinya usaha tersebut mulai dari tahun 1990 hingga sekarang.

“Kami rintis usaha ini lebih dari 30 tahun dan suka dukanya sangat kompelek bahkan dulu usaha kami hampir tutup akibat tragedi bom Bali, yang membuat orderan sepi,” kata Amran

Selain itu Amran menambahkan dengan adanya Arsthop miliknya, dulu ia mampu menyerap tenaga kerja hampir 3000 orang yang berasal dari warga setempat, namun sejak peristiwa bom Bali itu jumlah pengrajin yang masih bertahan sampai hari ini sekitar 150 orang.

“Sempat dulu kita menerima barang dari 3000 orang pengrajin yang ada di masyarakat sekitar, tapi kini hanya tinggal sedikit,” ujarnya.

Meski begitu Arsthop miliknya selalu menyediakan gerabah dengan berbagai jeni model dan ukuran, sehingga hal itu yang membuat arsthop yang di kelolanya selalu di datangi pembeli.

“Kami di sini menyediakan semua jenis gerabah segala jeni dan model dengan harga yang berpariasi mulai dari harga terendah 10 ribu hingga harga yang paling tinggi sekitar 10 juta,” ujar Amran.

Bahkan tambah Amran usaha yang di jalani tidak terdampak oleh pandemi Covid-19 malah waktu itu omset penjualan sempat melambung tinggi karena banyak barang yang keluar terutama tempat penampungan air sebagai tempat cuci tangan.

“Banyak usaha yang terdampak oleh pandemi covid-19 tetapi usaha artshop yang kami kelola alhamdulillah tidak terdampak sama sekali bahkan cenderung omset meningkat,” ujarnya

Namun dirinya mengaku sulit mengembangkan usaha lantaran minimnya perhatian dari pemerintah setempat dan hal itu di manfaatkan oleh para pengepul asal kabupaten lain sehingga nilai jual gerabah milik pengrajin tersebut di beli sangat murah hal itu membuat pengrajin menjerit sementara mereka (pengepul) menjual jauh lebih tinggi ke luar negeri.

Diakui gerabah miliknya kini sudah masuk pasar internasional seperti ke Sepanyol, Prancis, Amerika dan New Zealand namun di jual pengepul asal luar daerah.

“Kami berharap ada dukungan dari pemerintah kalaupun tidak bisa memberikan bantuan berupa dana, tolong carikan kami pembeli langsung dari luar negeri supaya nilai jual lebih tinggi dengan begitu ekonomi masyarakat pengrajin dapat meningkat,” tutupnya. (KN-Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *