Lombok Tengah, kabarntb.id – Komisi II DPRD Lombok Tengah (Loteng) turun monitoring dan evaluasi keberlangsungan Sentra Olahan Pangan Loteng di Dusun Pancor Dao, Desa Aik Dareq, Kecamatan Batukliang dalam monev itu terdapat beberapa kendala yang perlu segera teratasi salah satunya minimnya bahan baku singkong. Rabu (13/11).
Atas dasarnya ingin Komisi II DPRD Lombok Tengah mengusulkan perluasan area tanam singkong, sebagai bahan baku produksi tepung tapioka di Sentra Olahan Pangan. Sebab ini menjadi harapan baru bagi daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
”Dari hasil Monev kami menemukan adanya kendala Manajemen di sana baru menanam di luas lahan lima hektare. Ini belum mampu memenuhi kebutuhan pabrik, sehingga perlu ada penambahan luas lahan tanam,” ungkap anggota Komisi II DPRD Loteng Ahmad Supli, Selasa (12/11).
Dewan pun menawarkan, agar pengelola mengajukan pemanfaatan lahan kebun milik Pemda Loteng. Yang mana potensinya ada sekitar 8 hektare di Lendang Dokpes dan Beber seluas 10 hektare.
“Lahan ini juga tidak terkelola dengan bagus, saya minta Dinas Pertanian bisa melepas aset ini untuk dikelola manajemen sentra olahan pangan,” ujar Supli.
Terpisah, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng Baiq Yuliana Safriana mengatakan, pihaknya telah mendapat bantuan bibit varietas unggul sebanyak 39 ribu stek singkong Thailand yang ditanam pada lahan 5 hektare.
“Ia sejauh ini kami sudah menanam bibit varietas unggul dari Thailand tapi kamu butuh 20 hektare lahan untuk menanam bibit unggul ini,” katanya.
Dari kebutuhan lahan ini, kata Yuliana, dewan Loteng mengusulkan dapat memanfaatkan lahan-lahan pemda yang kurang dimanfaatkan maksimal. Ini bisa dikerjasamakan dengan Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD).
“Akan kami koordinasi dengan BPKAD Loteng untuk membahas lebih rinci lagi bagaimana pola pengalihan pemanfaatan lahan itu. Seperti apa kontribusinya apakah bisa berbentuk retribusi, sewa atau sistem lainnya,” Ujar Yuli
“Karena lahan pemda itu ada 10 hingga 20 hektare lahan bisa dimanfaatkan, lokasinya di Aik Bukaq, Pagutan, Beber alias lahan kebun bagian utara semua,” ungkap Yuli.
Yuli menuturkan, keberadaan sentra olahan pabrik tapioka ini mulai memberikan dampak positif bagi petani singkong.
Di tengah persiapan bibit unggul, pihaknya mengambil bahan baku singkong dari KLU, Lombok Timur dan Desa Sengkol, Loteng.
Harga singkong yang semula hanya Rp 1.500 per Kilogram (Kg) menjadi Rp 3.500 per Kg.
”Perlahan-lahan petani kita ini naikkan harganya, dari Rp 1.500, kemudian, Rp 2.000 hingga Rp 3.500 per Kg tapi ini tetap kita beli,” cetusnya.
Ini menunjukkan, komoditas singkong bisa menjadi alternatif tanaman bagi petani.
Keberadaan pabrik tapioka menjadi pasar yang pasti terhadap petani lokal. Sebagai contoh, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang menjadi lokasi bahan baku tepung Rose Brand.
”Kita harapkan Loteng juga begitu dengan bahan baku yang dimiliki bisa kembangkan produksi sendiri yang tak kalah kualitasnya dengan merek ternama lainya dengan begitu perlahan perekonomian masyarakat akan semakin meningkat,” tutup Yuli. (Dod)







