Lombok Tengah, kabarntb.id – Dalam sebuah momentum penuh makna di awal tahun ajaran baru, suasana Halaman Yayasan Pondok Pesantren Nurul Iman mendadak menjadi haru. Tangis bahagia dan rasa haru membuncah, menyelimuti para hadirin saat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB, H. Zamroni Aziz, menyampaikan sambutannya yang menyentuh hati dengan menekankan dua kunci utama kesuksesan berbakti kepada orang tua dan taat kepada guru.
“Kalau ingin sukses dunia, sukses akhirat, sukses belajar dan sukses hidup, maka kuncinya hanya dua bakti kepada orang tua dan taat kepada guru,” kata H. Zamroni Aziz dengan suara lantang, di hadapan para siswa baru, orang tua, para guru, dan jajaran Kemenag NTB. Rabu, 9 Juli 2025.
Semua mata memandang penuh perhatian. Kalimat itu bukan sekadar motivasi, tapi sebuah nilai luhur yang selama ini menjadi fondasi pendidikan karakter di lingkungan Pesantren.
Dalam sambutannya, “Orang tua kita adalah jalan ridha Allah, guru kita adalah pelita dalam kegelapan ilmu. Siapa yang menyepelekan keduanya, bersiaplah kehilangan arah hidup,” lanjutnya.
Namun puncak dari momen tersebut terjadi ketika H. Zamroni memanggil salah seorang ibu untuk naik ke atas panggung, dan meminta ibunya memanggil anaknya yang akan menjadi siswa baru bernama Azril.
Zamroni pun langsung bertanya kepada Siswa, apa cita citanya., dengan polos dan yakin menjawab bahwa ia ingin menjadi seorang Tuan Guru besar di masa depan. Sontak Jawaban itu membuat suasana menjadi semakin emosional.
Tampa diduga, H. Zamroni dan dengan suara bergetar ia meminta Azril untuk mencium kaki ibunya sebagai simbol bakti dan penghormatan.
“Ciumlah kaki ibumu, Nak. Di situlah letak surgamu dan kesuksesanmu. Jangan pernah lupakan doa dan air mata ibumu, karena itu akan mengangkat derajatmu dunia dan akhirat,” ujar Zamroni
Tiba-tiba suasana berubah menjadi penuh isak tangis. Hadirin, mulai dari siswa, guru, hingga para pejabat yang hadir tampak menyeka air mata. Banyak yang terharu menyaksikan momen langka yang begitu menyentuh jiwa. Azril menangis memeluk kaki ibunya, sang ibu pun tak kuasa menahan tangis. Momen tersebut langsung menjadi sorotan.
Acara yang awalnya hanya seremonial penyambutan siswa baru itu berubah menjadi peristiwa yang membekas di hati. Sebuah momentum spiritual yang mengingatkan kembali akan pentingnya menghargai perjuangan orang tua dan ketulusan guru dalam mendidik.
“Kalau semua anak bangsa seperti Azril, dan semua anak paham dua kunci ini, maka bangsa ini akan besar dengan akhlak dan berkah,” tutur seorang guru yang hadir dengan suara terbata-bata.yang tidak ingin disebut namanya.
Banyak yang menyebut bahwa inilah esensi pendidikan yang hakiki — bukan hanya cerdas secara akademik, tapi kuat dalam adab, akhlak, dan spiritualitas.
Dalam penutupan acara, H. Zamroni kembali menegaskan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari gelar atau jabatan, tetapi dari seberapa besar bakti kita kepada mereka yang telah berjasa — orang tua dan guru.
“Hidup ini pendek, gunakan untuk mencari keberkahan. Mulailah dengan sujud kepada orang tua dan patuh kepada guru. Itulah jalan mulia menuju ridha Allah,” pungkasnya.
Momen ini akan terus dikenang. Bukan hanya oleh Azril dan ibunya, tapi oleh seluruh peserta yang hadir. Sebuah pelajaran hidup yang akan terus menggema: berbaktilah, maka engkau akan diangkat derajatmu oleh Allah. (Dod)






