Muhlis Dorong Pemulihan Sosial dan Pastikan Pendidikan Anak Tetap Berjalan Pasca kebakaran Desa Adat Sade

LOMBOK TENGAH, kabarntb.id – Pascakebakaran yang melanda kawasan Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, perhatian terhadap pemulihan kehidupan masyarakat terus menjadi bagian penting dari upaya penanganan dampak bencana. Selain pemulihan permukiman adat dan pelestarian warisan budaya Sasak, keberlangsungan pendidikan anak-anak dari keluarga terdampak juga menjadi hal yang perlu dipastikan.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Muhlis, S.Pd., M.Pd., menaruh perhatian terhadap aspek sosial masyarakat serta keberlanjutan pendidikan anak-anak yang terdampak musibah tersebut.

Menurutnya, pemulihan pascakebakaran tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan sosial secara normal, termasuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat Desa Adat Sade bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan juga ruang hidup masyarakat Sasak yang mempertahankan tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya leluhur secara turun-temurun.

Kebakaran yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, berdampak pada permukiman dan sejumlah bangunan di kawasan adat tersebut. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak kemudian melakukan penanganan darurat dan menyiapkan langkah pemulihan bagi masyarakat terdampak.

Pemulihan Sosial Masyarakat Menjadi Perhatian

Muhlis menempatkan pelestarian budaya dalam konteks kehidupan masyarakat yang menjadi pemilik dan pewaris tradisi tersebut. Karena itu, upaya pemulihan Desa Adat Sade perlu memperhatikan kondisi sosial warga, terutama keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan berbagai kebutuhan akibat kebakaran.

Pemulihan sosial diharapkan dapat membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari, memperkuat solidaritas ant warga, serta menjaga keberlangsungan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak.

Dalam situasi pascabencana, perhatian terhadap anak-anak juga menjadi hal penting. Mereka tidak hanya membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga kepastian bahwa pendidikan tetap berlangsung dan masa depan mereka tidak terhambat akibat musibah.

Karena itu, koordinasi dengan pihak sekolah, keluarga, pemerintah desa, serta perangkat daerah terkait menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak dari keluarga terdampak tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Pendidikan Anak Korban Kebakaran Harus Tetap Berjalan

Keberlangsungan pendidikan menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian dalam proses pemulihan pascakebakaran Desa Adat Sade.

Muhlis mendorong agar anak-anak dari keluarga terdampak tetap memperoleh akses pendidikan tanpa kendala, meskipun kondisi tempat tinggal dan kehidupan keluarga mereka mengalami perubahan akibat kebakaran.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui koordinasi dengan satuan pendidikan dan pihak terkait untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa, memastikan kegiatan belajar tetap berjalan, serta mencari solusi apabila terdapat kendala perlengkapan sekolah, transportasi, maupun kebutuhan pendukung pembelajaran lainnya.

Pendekatan ini penting agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan belajar di tengah proses pemulihan keluarga mereka.

Keberlanjutan pendidikan juga merupakan bagian dari pemulihan sosial jangka panjang. Dengan tetap memperoleh pendidikan, anak-anak diharapkan dapat melanjutkan cita-cita dan mengembangkan kemampuan mereka, sekaligus tumbuh sebagai generasi yang memahami serta mencintai budaya daerahnya.

Bidang Kebudayaan Berperan Menjaga Warisan Sasak

Sebagai bagian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Bidang Kebudayaan memiliki peran dalam mendukung pelestarian, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan daerah sesuai tugas serta kewenangannya.

Ruang lingkup tersebut mencakup upaya menjaga tradisi dan adat istiadat, mendukung pelindungan warisan budaya, melakukan pendataan dan dokumentasi kebudayaan, serta mendorong pengenalan nilai-nilai budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Dalam konteks Desa Adat Sade, peran kebudayaan menjadi penting karena dampak kebakaran tidak hanya menyangkut kerusakan fisik bangunan, tetapi juga berpotensi memengaruhi ruang hidup, aktivitas budaya, dan benda-benda yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Sasak.

Karena itu, proses pemulihan perlu memperhatikan karakter dan nilai adat setempat. Pembangunan kembali kawasan adat tidak semata-mata diarahkan untuk memulihkan bentuk fisik permukiman, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi dan identitas budaya yang hidup di dalamnya.

Pendataan terhadap bangunan, benda budaya, cerita sejarah, pengetahuan tradisional, dan praktik adat yang terdampak juga penting dilakukan agar informasi mengenai warisan budaya tersebut tetap terdokumentasi.

Upaya ini sejalan dengan kebutuhan pemulihan Desa Adat Sade yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan instansi yang membidangi kebudayaan.

Menjaga Sade, Menjaga Identitas Masyarakat Sasak

Desa Adat Sade merupakan salah satu kawasan yang dikenal luas sebagai representasi kehidupan tradisional masyarakat Sasak di Lombok Tengah. Keberadaan rumah adat, tradisi, kerajinan, dan kehidupan sosial masyarakat menjadikan kawasan tersebut memiliki nilai budaya sekaligus potensi wisata.

Pascakebakaran, pemulihan kawasan tersebut membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan dan warisan budaya yang tersisa tetap terlindungi.

Bagi Bidang Kebudayaan, pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat yang menjalankan dan mewariskan tradisi tersebut. Oleh sebab itu, pemulihan sosial, keberlangsungan pendidikan anak-anak, dan perlindungan warisan budaya perlu berjalan beriringan.

Melalui koordinasi lintas sektor, pendataan warisan budaya, serta perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, pemulihan Desa Adat Sade diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi permukiman, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat dan menjaga identitas budaya Sasak bagi generasi mendatang. (Dod)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *