Bidang Budaya : FTBI Jadi Upaya Menjaga Bahasa Sasak Tetap Hidup di Generasi Muda

LOMBOK TENGAH, kabarntb.id – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Bidang Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah terus memperkuat upaya pelestarian bahasa daerah, khususnya bahasa Sasak, melalui penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang melibatkan peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kamis 22 Oktober 2026.

Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi salah satu program untuk menjaga keberlangsungan bahasa Sasak sebagai warisan budaya sekaligus menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu kepada generasi muda.

Kegiatan ini telah memasuki tahun ketiga sejak pertama kali dilaksanakan pada 2024. Pada 2026, FTBI tingkat Kabupaten Lombok Tengah dilaksanakan bulan September kemarin melalui tahapan seleksi di tingkat kecamatan hingga babak final tingkat kabupaten. Selanjutnya, para juara terbaik akan mengikuti festival tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2026.

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Muhlis, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan identitas budaya masyarakat Sasak.

Menurutnya, keberadaan FTBI menjadi salah satu langkah untuk memastikan bahasa Sasak tetap hidup, relevan, dan berkembang di tengah generasi penerus.

Pelestarian bahasa, lanjutnya, tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus dibangun melalui ruang-ruang pembelajaran, kreativitas, serta penggunaan bahasa daerah oleh generasi muda.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan semakin mengenal dan membiasakan penggunaan bahasa Sasak, termasuk bahasa Sasak alus, sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan.

Jangan Sampai Kehilangan Identitas

Pesan kuat mengenai pentingnya menjaga bahasa ibu juga disampaikan perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB, Kasman M.Um.

Ia menekankan bahwa tujuan utama revitalisasi bahasa daerah adalah menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap bahasa ibu.

“Jangan sampai kita kehilangan identitas. Jika bahasa hilang, identitas pun akan ikut hilang,” ujarnya.

Bahasa Sasak, lanjutnya, bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa merupakan bagian dari jati diri masyarakat yang harus dijaga, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan zaman yang membawa perubahan dalam pola komunikasi dan kehidupan generasi muda. Karena itu, festival seperti FTBI menjadi salah satu ruang untuk menghadirkan bahasa ibu dalam suasana yang dekat dengan dunia anak dan remaja, yakni kompetitif, kreatif, dan membanggakan.

Dari Seleksi Kecamatan Menuju Panggung Kabupaten

“FTBI 2026 diikuti para pelajar terbaik dari berbagai kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah. Sebelum tampil di tingkat kabupaten, para peserta terlebih.”tutup Muhlis. (Dod)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *